MAKALAH FILSAFAT PENDIDIKAN

By | November 4, 2011

MAKALAH FILSAFAT PENDIDIKAN

MAKALAH FILSAFAT PENDIDIKAN > MAKALAH PENDIDIKAN > MAKALAH FILSAFAT

 Makalah Filsafat Pendidikan – Selamat datang di blog pribadi saya, ada banyak topik yang tersedia di sini seperti Makalah Filsafat Pendidikan, untuk mendapatkan informasi lebih lanjut tentang topik yang terkait dengan Makalah Filsafat Pendidikan, anda dapat melakukan pencarian dengan Google™  Custom Search diatas. Berikut adalah topik tentang  Makalah Filsafat Pendidikan

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
MAKALAH FILSAFAT PENDIDIKANSejak pertama kali manusia berada di muka bumi, mereka telah dihadapkan pada masalah dan bermaksud untuk memecahkannya, namun dalam menghadapi masalahnya, manusia memberikan reaksi yang berbeda – beda sesuai dengan cara dan kemampuan berpikir mereka. Cara dan kemampuan berpikir manusia selalu berkembang seiring dengan berjalannya waktu. Begitu pula dengan ilmu dan pengetahuan yang didapat oleh manusia, semakin lama semakin mendalam dan luas. Mulai dari zaman purba hingga zaman kontemporer atau zaman sekarang. Perkembangan ilmu di tiap – tiap wilayah atau benua yang dihuni manusia berbeda – beda, sesuai dengan karakter dan kemampuan pemikiran dari manusia itu sendiri. Yang mana perkembangan tersebut merupakan rangkaian panjang sejarah peradaban umat manusia, yang dengan kemampuan akal, pikirannya selalu berusaha melangkah maju.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana perkembangan ilmu pada Zaman Pra Yunani Kuno (abad 15 – 7 SM)?
2. Bagaimana perkembangan ilmu pada Zaman Yunani Kuno (abad 7 SM – 6 M) ?
3. Bagaimana perkembangan ilmu pada Zaman Pratistik (abad 6 – 15 M) ?
4. Bagaimana perkembangan ilmu pada Zaman Pertengahan ?
5. Bagaimana perkembangan ilmu pada Zaman Renaissance (abad 14 – 17 M) ?
6. Bagaimana perkembangan ilmu pada Zaman Modern (abad 17 – 19 M) ?
7. Bagaimana perkembangan ilmu pada Zaman Kontemporer (abad 20 M – sekarang)

PEMBAHASAN
A. Zaman Pra Yunani Kuno
Bangsa Yunani merupakan bangsa yang pertama kali berusaha menggunakan akal untuk berpikir. Kegemaran bangsa Yunani merantau secara tidak langsung menjadi sebab meluasnya tradisi berpikir bebas yang dimiliki bangsa Yunani. Menurut Barthelemy, kebebasan berpikir bangsa Yunani disebabkan di Yunani sebelumnya tidak pernah ada agama yang didasarkan pada kitab suci. Keadaan tersebut jelas berbeda dengan Mesir, Persia, dan India. Sedangkan Livingstone berpendapat bahwa adanya kebebasan berpikir bangsa Yunani dikarenakan kebebasan mereka dari agama dan politik secara bersamaan. Pada masa Yunani kuno, filsafat secara umum sangat dominan, meski harus diakui bahwa agama masih kelihatan memainkan peran. Hal ini terjadi pada tahap permulaan, yaitu pada masa Thales (640-545 SM), yang menyatakan bahwa esensi segala sesuatu adalah air, belum murni bersifat rasional. Argumen Thales masih dipengaruhi kepercayaan pada mitos Yunani. Demikian juga Phitagoras (572-500 SM) belum murni rasional. Ordonya yang mengharamkan makan biji kacang menunjukkan bahwa ia masih dipengaruhi mitos. Jadi, dapat dikatakan bahwa agama alam bangsa Yunani masih dipengaruhi misteri yang membujuk pengikutnya, sehingga dapat disimpulkan bahwa mitos bangsa Yunani bukanlah agama yang berkualitas tinggi. Secara umum dapat dikatakan, para filosof pra-Socrates berusaha membebaskan diri dari belenggu mitos dan agama asalnya.
Sokrates menyumbangkan teknik kebidanan (maieutika tekhne) dalam berfilsafat. Bertolak dari pengalaman konkrit, melalui dialog seseorang diajak Sokrates (sebagai sang bidan) untuk “melahirkan” pengetahuan akan kebenaran yang dikandung dalam batin orang itu. Dengan demikian Sokrates meletakkan dasar bagi pendekatan deduktif. Pemikiran Sokrates dibukukan oleh Plato, muridnya. Hidup pada masa yang sama dengan mereka yang menamakan diri sebagai “sophis” (“yang bijaksana dan berapengetahuan”), Sokrates lebih berminat pada masalah manusia dan tempatnya dalam masyarakat, dan bukan pada kekuatan-kekuatan yang ada dibalik alam raya ini (para dewa-dewi mitologi Yunani). Seperti diungkapkan oleh Cicero kemudian, Sokrates “menurunkan filsafat dari langit, mengantarkannya ke kota-kota, memperkenalkannya ke rumah-rumah”. Karena itu dia didakwa “memperkenalkan dewa-dewi baru, dan merusak kaum muda” dan dibawa ke pengadilan kota Athena. Dengan mayoritas tipis, juri 500 orang menyatakan ia bersalah. Ia sesungguhnya dapat menyelamatkan nyawanya dengan meninggalkan kota Athena, namun setia pada hati nuraninya ia memilih meminum racun cemara di hadapan banyak orang untuk mengakhiri hidupnya.
B. Zaman Yunani Kuno
Filsafat pra-sokrates ditandai oleh usaha mencari asal (asas) segala sesuatu . Tidakkah di balik keanekaragaman realitas di alam semesta itu hanya ada satu azas? Thales mengusulkan: air, Anaximandros: yang tak terbatas, Empedokles: api-udara-tanah-air. Herakleitos mengajar bahwa segala sesuatu mengalir (“panta rei” = selalu berubah), sedang Parmenides mengatakan bahwa kenyataan justru sama sekali tak berubah. Namun tetap menjadi pertanyaan: bagaimana yang satu itu muncul dalam bentuk yang banyak, dan bagaimana yang banyak itu sebenarnya hanya satu? Pythagoras (580-500 sM) dikenal oleh sekolah yang didirikannya untuk merenungkan hal itu. Democritus (460-370 sM) dikenal oleh konsepnya tentang atom sebagai basis untuk menerangkannya juga. Zeno (lahir 490 sM) berhasil mengembangkan metode reductio ad absurdum untuk meraih kesimpulan yang benar. Puncak zaman Yunani dicapai pada pemikiran filsafati Sokrates (470-399 sM), Plato (428-348 sM) dan Aristoteles (384-322 sM).
C. Zaman Patristik
Istilah Patristik berasal dari kata latin patres yang berarti Bapak dalam lingkungan gereja. Bapak yang mengacu pada pujangga Kristen, mencari jalan menuju teologi Kristiani, melalui peletakan dasar intelektual untuk agama kristen. Di dunia Barat agama Khatolik mulai tersebar dengan ajarannya tentang Tuhan, manusia dan dunia, dan etikanya. Untuk mempertahankan dan menyebarkanya maka mereka menggukanakan falsafat Yunani dan memperkembangkanya lebih lanjut, khususnya mengenai soal-soal yang berhubungan dengan manusia, kepribadian, kesusilaan, sifat Tuhan. Yang terkenal Tertulianus (160-222), Origenes (185-254), Agustinus (354-430), yang sangat besar pengaruhnya (De Civitate Dei). Berdasarkan ajaran Neo-Plaonisi da Stoa, ajarannya meliputi pengetahuan, tata dalam alam. Bukti adanya Tuhan, tentang manusia, jiwa, etika, masyarakat dan sejarah.
Periode ini ditandai oleh bapak-bapak Gereja (patristik) yang dimulai dengan tampilnya apologet dan para pengarang Gereja. Dunia Barat agama Khatolik mulai tersebar dengan ajarannya tentang Tuhan, manusia dan dunia, beserta etikanya. Untuk mempertahankan dan menyebarkannya maka mereka menggunakan Filsafat Yunani dan memperkembangkannya lebih lanjut, khususnya mengenai soal-soal tentang kebebasan manusia, kepribadian, kesusilaan, sifat tentang Tuhan (Drs. Burhanuddin Salam, Pengantar Filsafat (Jakarta: PT Bumi Aksara 2003), 191.
Akal pada Abad Pertengahan ini benar-benar kalah. Hal itu kelihatan jelas pada Filsafat Plotinus, Agustinus, Anselmus. Pada Aquinas penghargaan terhadap akal muncul kembali, dan kerena itu filsafatnya mendapat kritikan. Sebagaimana telah dikatakan, Abad Pertengahan merupakan dominasi akal yang hampir seratus persen pada Zaman Yunani sebelumnya, terutama pada Zaman Sofis.
Pemasungan akal dengan jelas terlihat pada pemikiran Plotinus. Ia mengatakan bahwa Tuhan bukan untuk dipahami melainkan untuk dirasakan. Oleh karena itu tujuan dari filsafat adalah bersatu dengan Tuhan. Jadi dalam hidup ini rasa itulah satu-satunya yang dituntun oleh Kitab Suci, pedoman hidup manusia. Filsafat rasional dan sains tidak penting, mempelajarinya merupakan usaha mubadzir, menghabiskan waktu secara sia-sia. Karena Simplicius salah seorang pemikir zaman Plotinus, telah menutup sama sekaliruang gerak filsafat rasional, iman telah menang mutlak. Karena iman harus menang mutlak orang-orang yang masiih menghidupkan filsafat (akanl) harus dimusuhi. Maka pada tahun 415 M, Hypatia seorang yang terpelajar ahli filsafat pada zaman Aristoteles dibunuh. Tahun 529 M Kaisar Justianus mengeluarkan Undang-Undang yang melarang Filsafat.
Ciri khas Filsafat Abad pertengahan terletak pada rumusan terkenal yang dikemukakan oleh Saint Anselmus, yaitu Credo Ut Intelligam, yang berarti iman terlebih dahulu setelah itu mengerti. Sedangkan kelemahan dalam Filsafat Kristen pada Abad Pertengahan itu adalah sifatnya yang terlalu yakin terhadap penafsiran teks kitab suci. Penafsiran sebanarnya tidak lebih berarti dari pada sekedar filsafat juga. Jadi penafsiran pada dasarnya bersifat relatif kebenarannya, tidak absolut. Karena filosof pada zaman itu rata-rata menjabat sebagai orang suci (Saint), maka filsafat mereka menempati pengertian agama yang absolut dalam dirinya. Tokoh-Tokoh Filsafat Pada Zaman Patristik adalah Augustinus, Anselmus, Thomas Aquinas,
D. Zaman Pertengahan
Pengertian umum tentang zaman pertengahan yang berkaitan dengan perkembangan pengetahuan ialah suatu periode panjang yang dimulai dari jatuhnya kekaisaran Romawi Barat tahun 476M hingga timbulnya Renaisance di Italia. Zaman ini ditandai dengan pengaruh yang cukup besar dari agama Katolik terhadap kekaisaran dan perkembangan kebudayaan pada saat itu. Orang Romawi sibuk dengan masalah keagamaan tanpa memperhatikan masalah duniawi dan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu sejak jatuhnya kekaisaran Romawi Barat hingga kira-kira abad ke-10, di Eropa tidak ada kegiatan dalam bidang ilmu pengetahuan yang spektakuler yang dapat dikemukakan dan di sebut abad kegelapan. Menjelang berakhirnya abad tengah, ada kemajuan-kemajuan yang tampak dalam masyarakat berupa penemuan-penemuan. Berbeda dengan keaadan di Eropa, di dunia Islam pada masa yang sama justru malah mengalami masa keemasan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Menurut Slamet Imam Santoso (1997: 64) sumbangan sarjana Islam dapat diklasifikasikan dalam 3 hal, yaitu: (1). Menerjemahkan peninggalan bangsa Yunani dan menyebarluaskannya sedemikian rupa, sehingga pengegtahuan ini menjadi dasar perkembangan dan kemajuan di dunia Barat sampai sekarang, (2) memperluas pengamatan dalam lapangan ilmu ilmu kedokteran, obat-obatan, astronomi, ilmu kimia, ilmu bumi, dan ilmu tumbuh-tumbuhan, dan (3) menegaskan system decimal dan dasar-dasar aljabar. Beberapa orang yang member sumbangan besar dalam perkembangan IPTEK di dunia Islam. M Al Khawarzmi munyusun buku Aljabar pada tahun 825 M. Omar Khayam (1043-1132) seorang penyair, sekaligus ahli perbintangan dan ahli matematik. Jabir Ibnu Hayan (720-800) benyak mengadakan eksperimen, antara lain tentang kristalisasi, melarutkan, sublimasi dan reduksi. Dan tokoh-tokoh lainnya dalam bidang kedokteran, bidang geografi, dan bidang social. Pada zaman keemasan ilmu pengetahuan, bangsa Arab menjadi pemimpin dalam berbagai bidang ilmu.
E. Zaman Renaisance
Kata Renaissance berarti kelahiran kembali. Secara historis Renaisance adalah suatu gerakan yang meliputi suatu zaman ketika orang merasa telah dilahirkan kembali dalam keadaban. Zaman ini merupakan era kebangkitan kembali pemikiran yang bebas dari dogma-dogma agama. Manusia pasa zaman ini adalah manusia yang merindukan pemikiran bebas, seperti pada zaman Yunani Kuno.
Gejala-gejala kebangkitan kembali pemikiran bebas telah mulai tampak pada abad ke-12M dan merupakan dasar dari perkembangan ilmu pengetahuan selanjutnya. Kebangkitan ilmu pengetahuan ini dipelopori oleh beberapa orang biarawan yang menuntut ilmu di Spanyol, kemudian menyebarkan kebeberapa tempat di Eropa. Menurut Slamet Iman Santosa (1977:65) perkembangan ilmu pengetahuan pada zaman Renaisace mempunyai tiga sumber, yaitu: (1) adanya hubungan dengan kerajaan islam di Semenanjung Iberia dengan negara-nagara Perancis. (2) Perang Salib ( 1100-1300) yang terulang sebanyak enam kali. (3) jatuhnya Istanbul ke tangan bangsa Turki (1453).
Kabangkitan ilmu pengetahuan pada zaman Renaisance ditandai dengan timbulnya pemikiran dari tokoh-tokoh terkenal seperti: Nicolas Copernicus, Tycho Brahe, Johannes Kepler, Galileo Galilei, dan Francis Bacon.
Disamping perkembangan di bidang ilmu pengetahuan alam, pada zaman Renaisance juga terdapat perkembangan di bidang ilmu negara, sekalipun puncaknya baru terdapat pada awal abad ke-17, yaitu dari Hugo de Groot (1583-1645) dengan gagasannya tentang hokum internasional. Orang yang merintis suatu perkembangan besar pada abad ke-17 adalah Francis Bacon (1561-1626). Ia dapat dipandang sebagai orang yang meletakkan dasar-dasarr bagi metode induksi yang modern, dan menjadi pelopor dalam usaha mensistemalisasi secara logis prosedur ilmiah.

F. Zaman Modern
Pada masa ini muncul pemikir-pemikir yang mendorong cara pendekatann yang sama sekali baru terhadap masalah-masalah manusia, seperti rasionalisme dan empirisme. Aliran rasionalisme berpendapat bahwa sumber pengetahuan yang dapat dipercaya adalah rasio (akal), yaitu syarat yang dituntut oleh semua pengetahuan ilmiah. Sementara, aliran empirisme berpendapat bahwa empiri ata pengalamanlah yang menjadi sumber pengetahuan baik pengalaman batiniah maupun lahiriah.
Mulai saat zaman modern, teknologi mendapat arti baru sebagai applied scince (Ilmu terapan). Ditemukannya mesin uap oleh James Watt mendorong tercetusnya Revolusi Industri di Inggris pada abad ke-18. Tokoh yangmemberikan sumbangan pada masa modern adalah Rene Descartes (1596-1650) merupakan tokoh yang amat mendewakan rasio dan terkenal sebagai Bapak Filsafat Modern. Menurut Decrates, langkah-langkah berpikir terdiri dari empat hal, (1) tidak menerima apa pun sebagai hal yang benar, kecuali kalau diyakini sendiri bahwa itu memang benar, (2) memilah-milah masalah menjadi bagian-bagian terkecil untuk mempermudah penyelesaiannya, (3) berpikir runtut dengan mulai dari hal yang paling rumit, (4) perincian yang lengkap dan pemeriksaan yang menyeluruh diperlukan supaya tidak ada yang terlupakan dari permasalahan yang dikaji (Mustansyir, 2001: 81-82). Tokoh-tokoh yang lain adalah Isaac Newton (1643-1727) yakni dalam bidang ilmu fisika, dan matematika, J.J. Thompson sebagai penemu electron, Darwin menyumbangkan teori evolusi serta tokoh-tokoh lainnya.
Muncul pemikiran positivisme pada abad ke-19 yang dikemukakan oleh Auguste Comte (1798-1857). Pemikiran ini berpangkal dari apa yang telah diketahui, yang factual, yang positif. Segala uraian dan persoalan yang diluar apa yang ada sebagai fakta atau kenyataan dikesampingkan. Menurut Comte, perkembangan pemikiran manusia berlangsung dalam tiga tahap, yaitu teologis, metafisis, ilmiah atau positif. Zaman teologis, orang mengarahkan rohnya kepada hakekat batiniah segala sesuatu, kepada sebab pertama dan tujuan terakhir segala sesuatu. Zaman metafisis , kekuatan-kekuatan adikodrati hanya diganti dengan kekuatan-kekuatan yang abstrak, dengan pengertian-pengertian yang dipersatukan dalam sesuatu yang bersifat umum, yang dipandang sebagai asal segala penampakan atau gejala yang khusus. Zaman positif adalah zaman ketika orang tahu bahwa tiada gunanya untuk berusaha untuk mencapaii pengetahuan yang mutlak. Sekarang orang berusaha menemukan hukum-hukum kasamaan dan urutan yang terdapat pada fakta-fakta yang telah dikenal atau disajikan kepadanya, yaitu dengan pengamatan dan dengan memakai akal. Menurut Comte ilmu pasti adalah dasar segala filsafat.
G. Zaman Kontemporer
Perkembangan ilmu pengetahuan pada zaman kontemporer berkembang dengan sangat cepat. Masing-masing ilmu mengembangkan disiplin keilmuannya dan berbagai macam penemuan-penemuannya. Penemuan dan penciptaan terjadi silih berganti dan makin sering. Informasi ilmiah diproduksi dengan cepat, meliputi dua setiap tahun, bahkan disiplin-disiplin tertentu seperti genetika setiap dua tahun (Jacob, 1993:19).
Dalam bidang kedokteran, Mahzhab Hippokrates melihat kedokteran secara historis , tetapi sekitar lima abad yang lalu terjadi perubahan besar dengan gagasan manusia harus menguasai alam; materi dan jiwa harus dipisahkan. Dalam dasawarsa-dasawarsa akhir datang pula arus kontra dengan gerakan ke holism lagi, karena pengaruh negative teknologi dan pengaruh positif ekologi (Jacob, 2993: 20-21).
Dalam disiplin ilmu social, berbagai macam pendekatan dihasilkan guna semakin menajamkan daya analisa terhadap fenomena yang ditelitinya. Sementara itu dalam ilmu pengetahuan alam, terutama fisika sianggap memiliki perkembangan yang sangat spektakuler. Salah satu fisikawan yang termasyur pada masa itu adalah Albert Einstein.
Dalam 20 tahun terakhir ini, percepatan pertumbuhan teknologi itu sedemikian rupa, sehingga kalau diukur dari jangka waktu yang pendek tersebut , pertumbuhan itu laksana sebuah ledakan. Di masa depan teknologi akan jauh lebih pesat lagi perkembangannya. Orang membayangkan masa depan yang penuh shock, yan gpenuh katidakpastian dan kecemasan, karena lingkungan yang terlalu cepat berubah. Perkembangan teknologi akan menambah kuatitas produk, tetapi menurunkan kualitas. Teknologi sengaja dibuat segera usang atau tidak tahan lama. Inilah yang disebut technostress.
Dalam media komunikasi, penemuan mesin cetak merupakan peristiwa yang sangat penting, yang dimanfaatkan dengan baik pertama kali di Eropa. Media elektronik kemudian merevolisi informasi dengan telavisa, Koran jarak jauh, dll. Sekarang microelektronik dan multi media memebawa kita ke masyarakat informasi yang sanggup menyajikan gambar, suara dan cetakan sekaligus dan dapat bersifat individual dan personal.
Perkembangan teknologi juga ditrandai dengan makin meluasnya penggunaan teknologi modern itu dalam kehidupan sehari-hari, dan makin lama makin mencapai skala masal. Disisi lain pada zaman Kontemporer perkembangan ilmu juga ditandai dengan terjadinya spesialisasi-spesialisasi yang semakin tajam. Akibatnya, bidang pengkajian suatu bidang keilmuan makin sempit yang ditambah dengan berbagai pembatasan dalam pengkajiannya seperti asumsi dan prinsip sehingga membuat lingkup penglihatan keilmuan bertambah sempit pula. Hal inilah yang menimbulkan gejala deformation professionelle.
Di samping kecenderungan ke arah spesialisasi, kecenderungan lainnya dalam perkembangan ilmu pada zaman kontemporer ini adalah sintesis antara bidang ilmu satu dengan bidang ilmu yang lainnya. Perkembangan ilmu yang semakin cepat pada masa sekarang dimungkinkan karena adanya metode ilmiah dan komunikasi ilmiah antar ilmuan. Komunikasi ilmiah antar ilmuan juga sangat mendukung bagi percepatan perkembangna ilmu pengetahuan. Hasil penelitian yang dilakukan oleh seorang ilmuan disuatu wilayah akan dapat dengan mudah diketahui oleh ilmuan lain di wilayah lain. Namun pada masa sekarang komunikasi antar ilmuan menjadi sangat mudah karena munculnya pendukung lain seperti internet. Inilah yang menjad kunci percepatan perkembangan ilmu sekarang ini.

PENUTUP

A. Simpulan
Ilmu pengetahuan berkembang sesuai dengan perkembangan akal pikiran manusia yang semakin lama semakin maju dan meluas. Dan perkembangan ilmu pengetahuan tidak terpusat hanya pada suatu wilayah tertentu saja. Melainkan merata pada wilayah – wilayah yang dihuni manusia. Mulai dari Zaman Purba yang ditandai dengan perkembangan ilmu pengetahuan di wilayah Mesir dan Babylonia pada abad 3 – 1 SM, perkembangan ilmu pengetahuan di wilayah India pada tahun 2000 SM, dan perkembangan ilmu pengetahuan di wilayah Cina pada masa Dinasti Shang dan Dinasti Chon. Kemudian perkembangan ilmu pengetahuan pada Zaman Yunani (abad 7 SM – 6 M) yang dikenal sebagai masa kelahiran pemikiran kritis refleksi manusia. Kemudian perkembangan ilmu pengetahuan pada Zaman Pertengahan (abad 6 SM – 15 M) yang dimulai dengan kejatuhan Kekaisaran Romawi Barat hingga timbulnya Renaissance di Italia. Kemudian perkembangan ilmu pengetahuan pada Zaman Renaissance (abad 14 – 17 M) yang merupakan zaman peralihan ketika kebudayaan abad tengah mulai berubah menjadi suatu kebudayaan modern. Kemudian perkembangan ilmu pengetahuan pada Zaman Modern (abad 17 – 19 M) yang ditandai dengan percepatan kemajuan ilmu pengetahuan di Eropa. Hingga perkembangan ilmu pengetahuan pada Zaman Kontemporer (abad 20 M – sekarang) yang ditandai dengan perkembangan disiplin ilmu dari masing – masing ilmu yang menghasilkan berbagai macam penemuan yang silih berganti dan makin sering. Perubahan perilaku / kebiasaan masyarakat mulai dari berburu, berladang hingga penggunaan teknologi modern merupakan bentuk dari perkembangan ilmu pengetahuan yang semakin maju seiring dengan perkembangan akal pikiran manusia. Yang terjadi tidak hanya pada benua Eropa tetapi dunia Timur juga memegang peran penting dalam perkembangan ilmu.

B. Saran
Sebaiknya kita sebagai seorang mahasiswa sekaligus sebagai calon guru memahami dan mempelajari mengenai sejarah perkembangan ilmu agar dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari- hari serta kita memiliki pola pikir yang lebih berkembang.

DAFTAR PUSTAKA

Noor, Hadian. 1997. Pengantar Sejarah Filsafat. Malang: Citra Mentari Group.
Osborne, Richard. 2001. Filsafat Untuk Pemula. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Rachman, Maman, dkk. 2008. Filsafat Ilmu. Semarang : UPT UNNES Press.
Russell, Bertrand. 2004. Sejarah Filsafat Barat. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

http://bakuljangan.wordpress.com/2008/01/03/hubungan-agama-dan-filsafat-di-barat/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Current ye@r *